Sabtu, 15 Maret 2014

Program CSR PT. Unilever Indonesia

PT.Unilever Indonesia telah banyak melakukan beberapa program CSR (Corporate Social Responsibility) sebagai bentuk tanggung jawab yang tinggi terhadap masyarakat, secara berkelanjutan tidak hanya program korporasi tetapi juga pada brand yang merupakan produk rumah tangga. Sukses Unilever tidak dapat diraih tanpa kepercayaan masyarakat.

Program apa saja yang dilakukan?

Program CSR yang sudah dilakukan PT.Unilever diantaranya adalah
• Kampanye cuci tangan dengan sabun (Lifeboy)
• Program edukasi kesehatan gigi dan mulut (Pepsodent)
• Program pelestarian makanan tradisional (Bango) serta Program kepedulian pada anak-anak (Taro)
PT. Unilever Indonesia, Tbk melalui merek camilan andalannya, Taro, meluncurkan program Corporate Social Responsibility (CSR) baru bertajuk Markas Petualangan Taro (MPT). Program kepedulian pada anak-anak ini mulai dijalankan oleh masyarakat pada April 2008 lalu. Unilever yang berkiprah di Indonesia sejak 1933 ini menciptakan MPT dengan tujuan untuk membentuk karakter anak yang mandiri, peduli dan kreatif melalui aktivitas petualangan dengan memanfaatkan lahan di sekitar tempat tinggal. Program MPT dikemas dengan misi agar semua anak tetap bisa tumbuh sesuai dengan kebutuhan usianya sehingga mereka berkembang dengan masa kanak-kanak yang lebih menyenangkan dan bermakna. Beberapa contoh permainan dalam MPT adalah "Peta RT-ku", "Ranjau Darat", "Sekolah Batu", "Para Semut Petualang", "Sahabat Taro Peduli" dan "Keluargaku Teman Petualanganku". 

Siapa komunitas yang dituju?

Pada setiap perusahaan pasti mempunyai target publik dan komunitas. Perusahaan tidak dapat berdiri sendiri apabila tidak ada lingkungan sekitar yang mendukungnya, sehingga dapat tercipta hubungan baik antara perusahaan dengan komunitasnya. Jika, komunitas atau publik merasa tidak terpuaskan maka itu dapat menghambat jalannya laju perusahaan.
Dalam hal ini PT. Unilever Indonesia memposisikan community relations sebagai poin utama dalam berperan aktif, bertanggung jawab serta peduli terhadap kekreatifan dan keaktifan anak – anak Indonesia dalam program Unilever “Markas Petualangan Taro”.

Menurut pendapat saya tentang program ini...

Anak  merupakan penerus bangsa di masa depan, maka untuk memancing perkembangan setiap anak tersebut ialah membuat program sosial untuk mereka agar mereka dapat berperan aktif dalam mengeksplor diri mereka, peka serta peduli terhadap lingkungan, memancing kretifitas anak serta mandiri dalam melakukan hal – hal yang mereka sukai. Dalam program “Markas Petualangan Taro” anak diharapkan dapat lebih banyak belajar dan bermain di luar, memancing imajinasi dan berkreasi. Tidak hanya bermain games di dalam rumah saja dengan menggunakan berbagai media elektronik canggih yang membuat anak menjadi malas, penakut dan anti sosial terhadap teman sebayanya. Maka, tujuan dari program ini adalah untuk mencerdaskan anak – anak bangsa di masa mendatang dengan kekreatifan mereka. Jenis permainan yang mengandung unsur berpetualang merupakan sarana terbaik untuk pemenuhan masa tumbuh kembang anak usia sekolah.

Melalui kegiatan bermain dan berpetualang, lanjutnya, anak mendapat kesempatan untuk mengembangkan aspek-aspek perkembangan fisik-motorik, sosial-emosional, dan kecerdasan. Ketiga aspek perkembangan ini saling menunjang satu sama lain.

Berpetualang bagi anak adalah melakukan eksplorasi di lingkungan tempat tinggalnya. Sehingga bisa mendorong mereka untuk melatih bagaimana menyusun strategi, bagaimana mereka harus kreatif dalam pemecahan masalah, berinisiatif untuk mengambil tindakan, bersikap sportif menerima kekalahan (anak belajar mengendalikan emosi, bersikap sabar, melatih ketangkasan, dan ketahahan fisik).

Saran dan Solusi

Dalam jiwa setiap anak, terdapat keinginan untuk berpetualang atau berekplorasi. Saat usia Sekolah Dasar (SD), pengaruh lingkungan semakin kuat terhadap perkembangan anak. Bila salah menyikapi, anak akan terseret pengaruh buruk dari lingkungan di mana anak tinggal.

Saat usia SD, anak sudah mulai berinteraksi dengan lingkungan lain di luar keluarga inti. Mereka mulai berinteraksi dengan lingkungan sekolah, tempat mereka tinggal, dan sebagainya. Anak mulai suka berpetualang/bereksplorasi, tapi bukan lagi di rumah. Saat usia mereka, rumah dan benda-benda di dalamnya bukan hal yang menarik lagi.Mereka ingin sesuatu yang baru. Sehingga lingkungan di luar rumah menjadi tujuan mereka berpetualang. Tentunya, petualangan akan menjadi lebih menarik bila dilakukan bersama teman - temannya. 
Ketika anak merasa tempat bermain tidak memenuhi minatnya, ia akan pergi ke tempat lain untuk mencari kesenangan dan tantangan lainnya. Sering kali mereka menemukan itu dalam kegiatan-kegiatan yang bersifat antisosial.

Minimnya lahan bermain juga mengakibatkan anak mencari tempat berpetualang lain yang tidak sesuai dengan umurnya. Anak-anak akan pergi ke Warnet untuk mencari gambar-gambar porno, ke jalanan, atau bergaul dengan orang-orang dewasa.
Markas Petualangan Taro tercipta untuk membentuk karakter anak yang mandiri, peduli, dan kreatif melalui aktifitas petualangan dengan memanfaatkan lahan di sekitar tempat tinggal.
Melalui aktifitas petualangan, anak mendapat kesempatan untuk melatih dan mengembangkan kompetensi, berinteraksi dengan teman sebaya, terlibat dalam kerja sama tim, kreatif memecahkan masalah, menumbuhkan kepedulian, mengembangkan inisiatif, mengontrol emosi, dan mengevaluasi diri.

Pada umumnya, orang tua kurang paham pentingnya bermain yang mengandung unsur petualangan secara nyata. Sekarang ini, orang tua sering kali membiarkan anak untuk lama menonton TV, bermain games, dan Play Station selama berjam-jam. Konsekuensinya, anak tidak dapat mengembangkan kemampuan fisik dan mentalnya, mereka tidak dapat mengamati keadaan sekeliling, rasa ingin tahu berkurang, dan juga kurang kreatif.

Mereka kurang memiliki kesempatan untuk bergerak. Duduk dan mengamati adalah kegiatan sepihak di dalam dunia maya, bukan dunia yang sesungguhnya di mana anak seharusnya mendapatkan kesempatan dan pengalaman untuk pemecahan masalah secara nyata.

Dalam bermain, aktifitas berkelompok merupakan pengalaman sosial yang penting bagi anak-anak. Mereka mengenal dirinya melalui interaksi dengan anak lain melalui berbagai pengalaman sosial. Mereka belajar untuk memperhatikan dan menerima keberadaan anak lain dan bagaimana bersikap secara tepat. Dan mereka pun belajar meningkatkan kemampuan bersosialisasi.

Sumber: http://www.antaranews.com/berita/105093/unilever-hadirkan-program-csr-baru-bertajuk-markas-petualangan-taro

Nama: Afriliana A. Pratiwi
NIM: 1110411273
Community Relations

Kamis, 31 Mei 2012

Tak Tertahan


Ada perasaan yang tak bisa ku tahan lagi.

Perasaan yang sesekali ingin ku lenyapkan.

Namun, apakah aku sanggup membunuh anakku sendiri yang terlahir dari benak?

Tak sanggup. Aku tak sanggup. Sungguh.

Tapi, mengapa perasaan itu seakan bisa membunuhku?

Perih. Begitu kira-kira rasanya.

Lalu, aku harus berbuat apa?

Menanti.....
bersama detik-detik jam waktu dan kesunyian?

Berdoa.....
bersama sepotong luka dan harapan?

atau

Berlari.....
bersama kenangan yang telah terukir, menuju tempat yang ku anggap rumah tetapi tak pernah terbuka lagi pintunya, untukku.
dan aku berdiri di situ sampai kau membukanya lagi.

Rindu.

Ya... aku rindu padamu.
senyumanmu yang manis,
matamu yang teduh dan
nafasmu yang mencandukan.

Rindu sudah melumat habis semua kesabaranku.

Jadi,

Kapan kita akan bertemu?



Minggu, 27 Mei 2012

sebut saja ini (sajak, bukan) curcolan belaka.

kurajut doa demi doa setiap hari, agar menjadi kebahagiaan kita masing-masing  walau akhirnya kau pun tak bersamaku.

aku bagaikan karang laut yang terus-menerus diterjam oleh ombak yang besar. diam dan terkikis.

aku simpan tangisku di sebuah laci yang dipenuhi rindu dan sesak.

di dalam kepala ku kamu seorang pekerja keras dalam menjadi pemeran utama. di dalam hati ku kamu seorang pemilik istana.

aku sebuah kanvas putih dan kau melukis kerinduan beserta sepotong kenangannya dengan cat luka paling perih.









(kata orang) Tak Kenal Maka Tak Sayang


Hai, Bloggers entah ini blog-ku yang keberapa yang jelas setiap aku punya blog tak pernah terurus hingga lupa password-nya, mudah-mudahan blog yang keberapa entah ini bisa bertahan lama dan aku bisa seleluasa menulis disini. Sebelum aku memperkenalkan diri izinkan aku untuk memberikan alasan “kenapa aku bikin blog lagi? Gak takut lupa password lagi, emang?” Hmm…. Karna tuntutan seorang temanku Fitri Puri Chandra “Pice”  dan kakak kelasku Diny Prastica “Kak Dins”  sewaktu SMA. Aku punya janji dengan mereka “jika aku melanggar perjanjian yang telah disepakati itu, maka aku harus membuat blog lagi dan jika melanggar lagi, maka aku harus menulis satu postingan. dst.” Itulah jawaban atas pertanyaan di atas, masalah lupa atau tidak dengan password? Ya itu sih liat nanti aja deh tergantung ingatanku yang sangat minim ini :p. But, thanks Pice dan Kak Diny aku jadi bikin blog buat yang kesekian kalinya dan semoga blog yang ini bisa terawat dengan baik ya! hahaha.... Oke perkenalkan aku Afriliana Ambarani Pratiwi kamu cukup panggil aku “ana” saja atau “acil” juga boleh karna aku mempunyai badan yang mungil dan imut-imut (katanya), yang jelas aku bukan anak yang di bawah umur.  aku sudah [19+] cuma karna masalah badan aja sih aku jadi seperti anak kecil.  Segitu aja dulu deh selebihnya ketemu langsung aja boleh kok! :)))