PT.Unilever
Indonesia telah banyak melakukan beberapa program CSR (Corporate Social
Responsibility) sebagai bentuk tanggung jawab yang tinggi terhadap masyarakat,
secara berkelanjutan tidak hanya program korporasi tetapi juga pada brand yang
merupakan produk rumah tangga. Sukses Unilever tidak dapat diraih tanpa
kepercayaan masyarakat.
Program apa saja
yang dilakukan?
Program
CSR yang sudah dilakukan PT.Unilever diantaranya adalah
• Kampanye cuci tangan dengan sabun (Lifeboy)
• Program edukasi kesehatan gigi dan mulut (Pepsodent)
• Program pelestarian makanan tradisional (Bango) serta Program kepedulian pada anak-anak (Taro)
• Kampanye cuci tangan dengan sabun (Lifeboy)
• Program edukasi kesehatan gigi dan mulut (Pepsodent)
• Program pelestarian makanan tradisional (Bango) serta Program kepedulian pada anak-anak (Taro)
PT.
Unilever Indonesia, Tbk melalui merek camilan andalannya, Taro, meluncurkan
program Corporate Social Responsibility (CSR) baru bertajuk Markas
Petualangan Taro (MPT). Program kepedulian pada anak-anak ini mulai dijalankan
oleh masyarakat pada April 2008 lalu. Unilever yang berkiprah di Indonesia
sejak 1933 ini menciptakan MPT dengan tujuan untuk membentuk karakter anak yang
mandiri, peduli dan kreatif melalui aktivitas petualangan dengan memanfaatkan
lahan di sekitar tempat tinggal. Program MPT dikemas dengan misi agar semua
anak tetap bisa tumbuh sesuai dengan kebutuhan usianya sehingga mereka
berkembang dengan masa kanak-kanak yang lebih menyenangkan dan bermakna. Beberapa
contoh permainan dalam MPT adalah "Peta RT-ku", "Ranjau
Darat", "Sekolah Batu", "Para Semut Petualang",
"Sahabat Taro Peduli" dan "Keluargaku Teman Petualanganku".
Siapa komunitas
yang dituju?
Pada
setiap perusahaan pasti mempunyai target publik dan komunitas. Perusahaan tidak
dapat berdiri sendiri apabila tidak ada lingkungan sekitar yang mendukungnya, sehingga
dapat tercipta hubungan baik antara perusahaan dengan komunitasnya. Jika, komunitas
atau publik merasa tidak terpuaskan maka itu dapat menghambat jalannya laju
perusahaan.
Dalam
hal ini PT. Unilever Indonesia memposisikan community relations sebagai poin
utama dalam berperan aktif, bertanggung jawab serta peduli terhadap kekreatifan
dan keaktifan anak – anak Indonesia dalam program Unilever “Markas Petualangan
Taro”.
Menurut pendapat
saya tentang program ini...
Anak
merupakan penerus bangsa di masa depan,
maka untuk memancing perkembangan setiap anak tersebut ialah membuat program sosial
untuk mereka agar mereka dapat berperan aktif dalam mengeksplor diri mereka,
peka serta peduli terhadap lingkungan, memancing kretifitas anak serta mandiri
dalam melakukan hal – hal yang mereka sukai. Dalam program “Markas Petualangan
Taro” anak diharapkan dapat lebih banyak belajar dan bermain di luar, memancing
imajinasi dan berkreasi. Tidak hanya bermain games di dalam rumah saja dengan menggunakan
berbagai media elektronik canggih yang membuat anak menjadi malas, penakut dan
anti sosial terhadap teman sebayanya. Maka, tujuan dari program ini adalah
untuk mencerdaskan anak – anak bangsa di masa mendatang dengan kekreatifan
mereka. Jenis permainan yang mengandung unsur berpetualang merupakan
sarana terbaik untuk pemenuhan masa tumbuh kembang anak usia sekolah.
Melalui
kegiatan bermain dan berpetualang, lanjutnya, anak mendapat kesempatan untuk
mengembangkan aspek-aspek perkembangan fisik-motorik, sosial-emosional, dan
kecerdasan. Ketiga aspek perkembangan ini saling menunjang satu sama lain.
Berpetualang
bagi anak adalah melakukan eksplorasi di lingkungan tempat tinggalnya. Sehingga
bisa mendorong mereka untuk melatih bagaimana menyusun strategi, bagaimana
mereka harus kreatif dalam pemecahan masalah, berinisiatif untuk mengambil
tindakan, bersikap sportif menerima kekalahan (anak belajar mengendalikan
emosi, bersikap sabar, melatih ketangkasan, dan ketahahan fisik).
Saran dan Solusi
Dalam
jiwa setiap anak, terdapat keinginan untuk berpetualang atau berekplorasi. Saat
usia Sekolah Dasar (SD), pengaruh lingkungan semakin kuat terhadap perkembangan
anak. Bila salah menyikapi, anak akan terseret pengaruh buruk dari lingkungan
di mana anak tinggal.
Saat usia SD, anak sudah mulai berinteraksi dengan lingkungan lain di luar keluarga inti. Mereka mulai berinteraksi dengan lingkungan sekolah, tempat mereka tinggal, dan sebagainya. Anak mulai suka berpetualang/bereksplorasi, tapi bukan lagi di rumah. Saat usia mereka, rumah dan benda-benda di dalamnya bukan hal yang menarik lagi.Mereka ingin sesuatu yang baru. Sehingga lingkungan di luar rumah menjadi tujuan mereka berpetualang. Tentunya, petualangan akan menjadi lebih menarik bila dilakukan bersama teman - temannya. Ketika anak merasa tempat bermain tidak memenuhi minatnya, ia akan pergi ke tempat lain untuk mencari kesenangan dan tantangan lainnya. Sering kali mereka menemukan itu dalam kegiatan-kegiatan yang bersifat antisosial.
Saat usia SD, anak sudah mulai berinteraksi dengan lingkungan lain di luar keluarga inti. Mereka mulai berinteraksi dengan lingkungan sekolah, tempat mereka tinggal, dan sebagainya. Anak mulai suka berpetualang/bereksplorasi, tapi bukan lagi di rumah. Saat usia mereka, rumah dan benda-benda di dalamnya bukan hal yang menarik lagi.Mereka ingin sesuatu yang baru. Sehingga lingkungan di luar rumah menjadi tujuan mereka berpetualang. Tentunya, petualangan akan menjadi lebih menarik bila dilakukan bersama teman - temannya. Ketika anak merasa tempat bermain tidak memenuhi minatnya, ia akan pergi ke tempat lain untuk mencari kesenangan dan tantangan lainnya. Sering kali mereka menemukan itu dalam kegiatan-kegiatan yang bersifat antisosial.
Minimnya lahan bermain juga mengakibatkan anak mencari tempat berpetualang lain
yang tidak sesuai dengan umurnya. Anak-anak akan pergi ke Warnet untuk mencari
gambar-gambar porno, ke jalanan, atau bergaul dengan orang-orang dewasa.
Markas
Petualangan Taro tercipta untuk membentuk karakter anak yang mandiri, peduli,
dan kreatif melalui aktifitas petualangan dengan memanfaatkan lahan di sekitar
tempat tinggal.
Melalui aktifitas petualangan, anak mendapat kesempatan untuk melatih dan mengembangkan kompetensi, berinteraksi dengan teman sebaya, terlibat dalam kerja sama tim, kreatif memecahkan masalah, menumbuhkan kepedulian, mengembangkan inisiatif, mengontrol emosi, dan mengevaluasi diri.
Melalui aktifitas petualangan, anak mendapat kesempatan untuk melatih dan mengembangkan kompetensi, berinteraksi dengan teman sebaya, terlibat dalam kerja sama tim, kreatif memecahkan masalah, menumbuhkan kepedulian, mengembangkan inisiatif, mengontrol emosi, dan mengevaluasi diri.
Pada
umumnya, orang tua kurang paham pentingnya bermain yang mengandung unsur
petualangan secara nyata. Sekarang ini, orang tua sering kali membiarkan
anak untuk lama menonton TV, bermain games, dan Play Station selama berjam-jam.
Konsekuensinya, anak tidak dapat mengembangkan kemampuan fisik dan mentalnya,
mereka tidak dapat mengamati keadaan sekeliling, rasa ingin tahu berkurang, dan
juga kurang kreatif.
Mereka
kurang memiliki kesempatan untuk bergerak. Duduk dan mengamati adalah kegiatan
sepihak di dalam dunia maya, bukan dunia yang sesungguhnya di mana anak
seharusnya mendapatkan kesempatan dan pengalaman untuk pemecahan masalah secara
nyata.
Dalam
bermain, aktifitas berkelompok merupakan pengalaman sosial yang penting bagi
anak-anak. Mereka mengenal dirinya melalui interaksi dengan anak lain melalui
berbagai pengalaman sosial. Mereka belajar untuk memperhatikan dan menerima
keberadaan anak lain dan bagaimana bersikap secara tepat. Dan mereka pun
belajar meningkatkan kemampuan bersosialisasi.
Nama: Afriliana A. Pratiwi
NIM: 1110411273
Community Relations
